Resensi film
Judul film : Sang Kiai
Produser : Gope T Samtani
Sutradara : rako prijanto
Pemain
:
Ikranagara (KH Hasyim Asy’ari), Christine Hakim (Masrurah/nyai
Kapu), Adipati Dolken (Harun), Miriza
Febriyani Batubara (Sari), Agus
Kuncoro Adi (KH Wahid Hasyim), Dimas Aditya
(Hamzah), Royham
Hidayat (Khamid), Ernestsan Samudera (Abdi),
Ayes Kassar
(Baidhowi), Boy Permana (KH Karim Hasyim),
Dayat Simbaia (KH
Yusuf Hasyim), Dymas Agust (KH Mas Mansur),
Andrew
Tigg (Brigadir Mallaby), Arswendi Nasution
(KH A Wahab Hasbullah),
Norman Rivianto Akyuwen (kang Solichin).
Genre: drama
Tanggal liris :30 mei 2013
Durasi film : 136 menit
Poster :
Sinopsis:
Pendudukan oleh Jepang ternyata tidak lebih baik dari Belanda, Jepang
mulai melarang pengibaran bendera merah putih, melarang lagu Indonesia Raya dan
memaksa rakyat untuk melakukan Sekerei.
K.H. Hasyim Asy'ari (Ikranegara) sebagai tokoh besar agamais saat itu
menolak untuk melakukan Sekerei karena beranggapan bahwa tindakan itu
menyimpang dari akidah agama Islam, karena sebagai umat Islam hanya menyembah
kepada Allah SWT. Karena tindakannya yang berani itu, Jepang menangkap K.H.
Hasyim Asy'ari.
K.H. Wahid Hasyim (Agus Kuncoro Adi) salah satu putra beliau mencari
jalan diplomasi untuk membebaskan K.H. Hasyim Asy'ari. Berbeda dengan Harun
(Adipati), salah satu santri K.H. Hasyim Asy'ari yang percaya cara kekerasanlah
yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Harun menghimpun kekuatan santri
untuk melakukan demo menuntut kebebasan K.H. Hasyim Asy'ari. Tetapi Harun salah
karena cara tersebut malah menambah korban jiwa.
K.H. Wahid Hasyim dapat menenangkan diplmasi terhadap pihak Jepang dan
K.H. Hasyim Asy'ari berhasil dibebaskan. Pada masa ini K.H. Hasyim Asy'ari
menikahkan Harun dengan Sarinah (Meriza Febriani Batubara) gadis yang
dicintainya.
Perjuangan melawan Jepang belum berakhir sampai disini. Jepang memaksa
rakyat Indonesia untuk melimpahkan hasil bumi.
Jepang menggunakan Masyumi sebagai propaganda mendekati umat Islam yang
berada di Indonesia untuk menggalakkan bercocok tanam. Bahkan melalui seruan di
Masjid dalam setiap sholat Jum'at. Jepang meminta hasil bercocok tanam tersebut
disetorkan ke pihak Jepang. Pada saat itu rakyat sedang mengalami krisis beras,
bahkan persediaan di lumbung pun nyaris kosong. Harun melihat masalah ini
secara harfiah dan merasa bahwa K.H Hasyim Asy'ari mendukung Jepang, hingga ia
memutuskan untuk pergi dari pesantren.
Jepang kalah perang, Sekutu mulai datang. Soekarno sebagai presiden saat
itu mengirim utusannya ke Tebuireng untuk meminta K.H. Hasyim Asy'ari membantu
mempertahankan kemerdekaan dan meminta fatwa hukum membela negara. K.H. Hayim
Asy'ari menjawab dengan mengeluarkan resolusi Jihad yang kemudian membuat
barisan santri dan penduduk Surabaya berduyun-duyun tanpa rasa takut melawan
Sekutu di Surabaya.
Harun dan teman-teman santrinya bergabung untuk melawan Sekutu. Sari
yang meninggalkan pesan cinta dalam saputangan putih, sangat berat untuk
melepas suaminya ikut berperang.
Barisan laskar santri pulang dalam beberapa truk ke Tebuireng. K.H.
Hasyim Asy'ari menyambut kedatangan santri-santrinya , tetapi air mata
mangambang di matanya yang nanar.
Evaluasi
·
Kelebihan
dari film ini menurut saya adalah dari para aktor dan aktris sudah sangat mirip
seperti karakter asli dalam kehidupan nyata sang kiai dan para santri
·
Kekurangan
dari film ini menuut saya adalah dalam film ini masih terpengaruh budaya barat
yang tidak mempercayai dengan hal hal
yang sakti, padahal santri jaman dahulu berperang menggunakan bambu runcing
sedangkan dalam film ini sudah menggunakan pistol dan granat.
