Sabtu, 28 Maret 2015

Resensi film
Judul film                    : Sang Kiai
Produser                      : Gope T Samtani
Sutradara                     : rako prijanto
Pemain                        : Ikranagara (KH Hasyim Asy’ari), Christine Hakim (Masrurah/nyai

                                      Kapu), Adipati Dolken (Harun), Miriza Febriyani Batubara (Sari), Agus

                                      Kuncoro Adi (KH Wahid Hasyim), Dimas Aditya (Hamzah), Royham

                                      Hidayat (Khamid), Ernestsan Samudera (Abdi), Ayes Kassar

                                      (Baidhowi), Boy Permana (KH Karim Hasyim), Dayat Simbaia (KH

                                      Yusuf Hasyim), Dymas Agust (KH Mas Mansur), Andrew

                                      Tigg (Brigadir Mallaby), Arswendi Nasution (KH A Wahab Hasbullah),

                                      Norman Rivianto Akyuwen (kang Solichin).

Genre: drama
Tanggal liris                 :30 mei 2013
Durasi film                  : 136 menit
Poster                           :                              
                                     


Sinopsis:
Pendudukan oleh Jepang ternyata tidak lebih baik dari Belanda, Jepang mulai melarang pengibaran bendera merah putih, melarang lagu Indonesia Raya dan memaksa rakyat untuk melakukan Sekerei.
K.H. Hasyim Asy'ari (Ikranegara) sebagai tokoh besar agamais saat itu menolak untuk melakukan Sekerei karena beranggapan bahwa tindakan itu menyimpang dari akidah agama Islam, karena sebagai umat Islam hanya menyembah kepada Allah SWT. Karena tindakannya yang berani itu, Jepang menangkap K.H. Hasyim Asy'ari.
K.H. Wahid Hasyim (Agus Kuncoro Adi) salah satu putra beliau mencari jalan diplomasi untuk membebaskan K.H. Hasyim Asy'ari. Berbeda dengan Harun (Adipati), salah satu santri K.H. Hasyim Asy'ari yang percaya cara kekerasanlah yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Harun menghimpun kekuatan santri untuk melakukan demo menuntut kebebasan K.H. Hasyim Asy'ari. Tetapi Harun salah karena cara tersebut malah menambah korban jiwa.
K.H. Wahid Hasyim dapat menenangkan diplmasi terhadap pihak Jepang dan K.H. Hasyim Asy'ari berhasil dibebaskan. Pada masa ini K.H. Hasyim Asy'ari menikahkan Harun dengan Sarinah (Meriza Febriani Batubara) gadis yang dicintainya.
Perjuangan melawan Jepang belum berakhir sampai disini. Jepang memaksa rakyat Indonesia untuk melimpahkan hasil bumi.
Jepang menggunakan Masyumi sebagai propaganda mendekati umat Islam yang berada di Indonesia untuk menggalakkan bercocok tanam. Bahkan melalui seruan di Masjid dalam setiap sholat Jum'at. Jepang meminta hasil bercocok tanam tersebut disetorkan ke pihak Jepang. Pada saat itu rakyat sedang mengalami krisis beras, bahkan persediaan di lumbung pun nyaris kosong. Harun melihat masalah ini secara harfiah dan merasa bahwa K.H Hasyim Asy'ari mendukung Jepang, hingga ia memutuskan untuk pergi dari pesantren.
Jepang kalah perang, Sekutu mulai datang. Soekarno sebagai presiden saat itu mengirim utusannya ke Tebuireng untuk meminta K.H. Hasyim Asy'ari membantu mempertahankan kemerdekaan dan meminta fatwa hukum membela negara. K.H. Hayim Asy'ari menjawab dengan mengeluarkan resolusi Jihad yang kemudian membuat barisan santri dan penduduk Surabaya berduyun-duyun tanpa rasa takut melawan Sekutu di Surabaya.
Harun dan teman-teman santrinya bergabung untuk melawan Sekutu. Sari yang meninggalkan pesan cinta dalam saputangan putih, sangat berat untuk melepas suaminya ikut berperang.
Barisan laskar santri pulang dalam beberapa truk ke Tebuireng. K.H. Hasyim Asy'ari menyambut kedatangan santri-santrinya , tetapi air mata mangambang di matanya yang nanar.




Evaluasi
·         Kelebihan dari film ini menurut saya adalah dari para aktor dan aktris sudah sangat mirip seperti karakter asli dalam kehidupan nyata sang kiai dan para santri

·         Kekurangan dari film ini menuut saya adalah dalam film ini masih terpengaruh budaya barat yang tidak  mempercayai dengan hal hal yang sakti, padahal santri jaman dahulu berperang menggunakan bambu runcing sedangkan dalam film ini sudah menggunakan pistol dan granat.